11 Agustus 2014 - 08:23
Sebut 12.000 Pelajar Indonesia di Iran, MIUMI Tebar Fitnah

Farid Okbah berdusta. Layakkah mengklaim diri sendiri sebagai ulama dan intelektual muslim?

Menurut Kantor Berita ABNA, fitnah terhadap Syiah masih juga ditebar oleh kelompok-kelompok anti Syiah. Kali ini datang dari Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia [MIUMI], organisasi yang didirikan oleh sejumlah aktivis dakwah Islam yang mengklaim diri mereka sendiri sebagai ulama dan intelektual. Dalam Muktamar MIUMI I yang digelar di Markas AQL Center Tebet Jakarta, [12/6], Farid Okbah sebagai salah seorang pembicara menyebut saat ini kurang lebih sekitar 12.000 pelajar Indonesia di Iran sembari menyebutkan betapa bahayanya ajaran Syiah jika hal tersebut dibiarkan. Sebuah pernyataan yang tidak didasari oleh data dan fakta.

Angka yang disebut Farid Okbah dua kali lipat dari jumlah angka yang pernah disampaikan oleh Ali Machsan Musa tentang pelajar Indonesia yang belajar di Iran. Anggota DPR RI Komisi VIII masa jabatan 2009-2014 tersebut menyebut jumlah pelajar Indonesia di Iran sekitar 6000-7000 orang. Pernyataan ceroboh yang menuai kritik. Himpunan Pelajar Indonesia di Iran [HPI-Iran] menanggapi pernyataan tersebut dengan merilis surat resmi secara terbuka sebagai bentuk klarifikasi.

Ada empat poin yang HPI klarifikasi. Diantaranya,  soal pernyataan Ali yang menuding ada ribuan pelajar Indonesia di Iran. Menurut HPI, berdasarkan Data Pemilih Tetap Pemilu, Maret 2009, jumlah masyarakat Indonesia di Republik Islam Iran adalah 304 WNI. Dari jumlah tersebut, 257 WNI tercatat sebagai pelajar Indonesia di Republik Islam Iran dari berbagai bidang studi.

Angka ini sudah termasuk di dalamnya jumlah anggota keluarga yang ikut bersama mereka. Ini dikuatkan oleh data pelajar RI 31 Januari 2011 dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran. "Dengan demikian maka, pernyataan Ali Maschan Musa, yang memperkirakan jumlahnya (mahasiswa) bisa 6.000-7.000 orang adalah semata-mata kecerobohan," demikian klarifikasi yang disampaikan Ammar Fauzi, ketua umum HPI saat itu. [Republika, 6/3/11]

 

Farid Okbah menyatakan pernyataan penuh kedustaan serupa, dengan angka yang fantastis. Menurutnya jumlah pelajar Iran di Indonesia mencapai angka 12 ribu orang. Menurut data Panitia Pemilihan Luar Negeri [PPLN] Iran, untuk Daftar Pemilih Tetap [DPT] yang berhak mengeluarkan hak suaranya pada pemlihan umum 2014 di Iran tercatat 282 pemilih yang tersebar di berbagai kota dengan konsentrasi WNI terbesar berada di kota Qom. Jadi, dari mana Farid Okbah mengambil angka 12 ribu pelajar tersebut? Tujuan Farid Okbah jelas, dengan menyebut angka yang fantastis tersebut [bahkan mengalahkan jumlah pelajar Indonesia di Mesir] adalah untuk menimbulkan keresahan dan kecurigaan sembari mempropagandakan bahaya Syiah kepada masyarakat muslim Indonesia.

 

Aktivis MIUMI lainnya, Ilham Kadir, dalam tulisannya “MIUMI akan Menjadi Jarum bagi Syiah”, yang disebar melalui blog pribadinya, [dengan menulis kembali pernyataan Farid Okbah] menyebutkan:

 

“Syiah memiliki lima kekuatan yang mengalahkan kekuatan apa pun. Pertama, Syiah memiliki negara; Kedua, mereka memiliki marja', ABI ke Iran, IJABI ke Libanon, mereka tunduk patuh pada marja', saat ini sudah banyak anak Indonesia yang berlatih perang dengan Hizbullah di Libanon. Ketiga, Mereka punya khumus, atau dana untuk memperkuat gerakan mereka. Keempat, kaderisasi yang terus terpelihara, saat ini saja, kurang lebih sekitar 12.000 pelajar Indonesia di Iran, sementara di Mesir hanya 5000. Kelima, Syiah memiliki kader ilmiah militan lulusan khauzah ilmiah di Iran seperti Qum.

Semua ini, bukan saja sekadar tantangan, tapi sudah menjadi bara yang menyala dalam rumah kita. Kata penulis buku, Ahlussunah wal Jamaah dan Dilema Syiah di Indonesia.

Menurutnya, Ajaran Syiah tidak usah ditakuti karena sangat rapuh, dia hanya ibarat balon, begitu kena jarum akan langsung meletup. Maka kita, MIUMI harus menjadi jarum bagi Syiah."

Tentu selain pernyataan mengenai jumlah pelajar Indonesia di Iran yang jauh dari kenyataan, juga terdapat pernyataan yang kontradiksi. Kalau memang Syiah memiiliki lima kekuatan yang disebut Farid Okbah yang mampu mengalahkan kekuatan apapun, lantas bagaimana bisa disaat yang sama dia juga menyebut Syiah sangat rapuh dan hanya ibarat balon? Dengan menggunakan logika Farid Okbah, tentu dia bermaksud mengatakan, Syiah yang diumpamakannya balon, karena memilih kekuatan yang mengalahkan kekuatan apapun, tentu saja Syiahpun mampu mengatasi MIUMI yang diibaratkannya jarum. Layakkah umat Islam Indonesia menyematkan sebutan ulama dan intelektual pada Farid Okbah yang serampangan mengumbar data dan kontradiksi dalam pernyataannya?.